Interview: Uyau Moris, Membawa Sapeh Ke Level Yang Berbeda

Scroll down for the article in English

Pada saat artikel ini ditulis jumlah subscribers Uyau Moris atau Amoris sudah mencapai 27,955. Ia sudah cukup berhasil menarik perhatian masyarakat luas terhadap sapeh dan musik tradisional Kalimantan. Berikut wawancara kami dengan Uyau Moris dan bagaimana cara kreatif dia dalam memperkenalkan Sapeh ke anak-anak muda.

Apa latar belakang musikal Anda ? Apakah dari awal Anda sudah langsung memainkan sapeh atau pernah memainkan alat musik lain terlebih dahulu?

Saya memainkan alat musik ini sejak kecil mulai dari usia 8 tahun. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa saya sudah memainkan alat ini sejak kecil. Faktor pertama adalah kakek saya, Majan Kasit. Kakek saya adalah salah satu pemain dan pembuat alat musik sapeh. Kedua adalah orang tua yang juga selalu mengajak saya ke hampir semua kegiatan adat yang menggunakan sapeh.

Musik tradisional kalimantan tidak sama dengan musik eropa yang diatonis dan bisa berganti harmoni. Bagaimana Anda memodifikasi sapeh agar bisa juga memainkan lagu pop ?

Pada umumnya alat musik nusantara bernada pentatonis atau terdiri dari 5 nada saja. Hal tersebutlah yang membuat alat ini unik, tapi kadang untuk explore lebih luas kita menemukan beberapa kendala, sehingga saya mencoba memodifikasi alat musik saya dengan menjadikannya diatonis. Tidak hanya sampai disitu, jumlah senar yg biasanya 3-4 senar saya coba menambah menjadi 6-7 senar. Hal tersebut saya lakukan untuk kebutuhan pertunjukan agar wilayah yang dieksplorasi lebih luas.

Misi apa yang selalu Anda bawa dari musik Sapeh ini ? Apakah Anda punya pesan untuk musisi yang mau belajar instrumen tradisional ?

Misi yang ingin saya bawa sangat sederhana. Mengingat perkembangan jaman yang semakin modern, alat-alat musik tradisional semakin hari semakin ditinggalkan. Kalau bukan saya atau kita sendiri yang memulai untuk memperkenalkan, siapa lagi yang akan memulai? Tentu bukan persoalan mudah untuk membuat alat musik tradisional disukai oleh anak-anak muda. Berbagai macam cara sudah dilakukan untuk meningkatkan ketertarikan anak muda terhadap alat musik tradisional, khususnya sapeh. Mulai dari karya sendiri sudah dilakukan sampai dengan cover beberapa lagu yang sedang populer.

Apakah pernah ada pengalaman menarik selama memainkan musik tradisional? Apa pernah ada yg komentar bahwa Anda tidak memainkan secara tradisional karena sudah dicampur drum dll?

Tentu ada hal-hal seperti itu. Ada yang protes, kenapa saya tidak memainkan yang tradisionalnya aja? Saya sudah jelaskan bahwa di beberapa permainan dan video yang saya buat bahwa saya tetap sisipkan lagu asli/aturan tradisionalnya. Alasan lain saya juga, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, bahwa alat musik ini harus bisa bersaing di kondisi zaman sekarang. Harus mengikuti zaman jika tidak mau ditinggal.

Apa ideologi Anda dalam memainkan lagu pop dengan alat musik tradisional?

Memainkan lagu pop dengan alat musik tradisional sebenarnya hanyalah sebuah kamuflase bagi saya untuk mengiring anak-anak muda mengenal alat musik tradisi. Di dalam cover tersebut saya selipkan permainan-permainan tradisional dan pola-pola tradisional yang mungkin kebanyakan orang tidak sadari. Tapi dengan begitu,  banyak anak-anak muda yang akhirnya tahu nama-nama pola tradisional musik sapeh seperti datin julut, urau, dan sape leto.

Kami sempat melihat Anda berada di Ottawa dan sekarang di Chicago, apa yang Anda lakukan disana ?

Beberapa acara yang beruntut di Ottawa dan Chicago tidak pernah lepas dari musik yang menemani saya. Di sana saya melakukan beberapa pertunjukan dan memperkenalkan budaya Dayak kepada masyarakat disana, dimana musik dan kebudayaan Dayak hampir mirip dengan suku Indian yang berada di Amerika dan Kanada. Hal tersebut menjadi poin untuk  pendekatan saya kepada penonton sehingga mereka memiliki daya tarik yang lebih dalam lagi mengenai Dayak, Kalimantan, dan Borneo.

Apa rencana Anda ditahun 2017 sampai 2018 mendatang ?

Dalam beberapa bulan ke depan saya akan fokus merekam beberapa karya saya sendiri dan beberapa lagu tradisional sapeh yang belum sempat saya rekam. Lalu akan saya publikasi di channel YouTube saya sebagai pembelajaran untuk anak-anak muda sambil meningkatkan kreativitas saya lagi dan melihat peluang yang bisa saya gapai setinggi mungkin.


English Version

By the time when this article was written, Uyau Moris or Amoris already has 27,955 subscribers on Youtube. He has been quite successful in attracting people to hear traditional Kalimantan and sapeh music. Here is our interview with him on his music and his way to introduce traditional music to young people.

What is your musical background? Is sapeh your first instrument?

I have been playing this instrument since I was 8 years old. There were some factors that made me learn sapeh in the first place. The first one was my grandfather, Majan Kasit, who was a player and also a sapeh maker. Secondly, my parents who always asked me to go to every traditional sapeh-related events when I was a child.

Traditional music of Borneo is not the same as european diatonic music and harmony. How did you modify your sapeh to be able to play pop music?

In general Indonesian music instruments are pentatonic. That is what makes these instruments unique, but I’ve stumbled upon some problems when I tried to explore more music with sapeh, so I modified my instrument to be able to play diatonic music. I’ve also added more 3 more strings so that my sapeh has 6-7 strings. I needed it for my show in order to explore more music for sapeh.

What is your mission for sapeh music? Do you have a message for people who want to learn traditional instrument?

My mission is very simple. Traditional instruments are being forgotten in time of modern age. Who will introduce and still play this music if we don’t start to do it ourselves? It is not easy to make traditional instruments appealing for young people. I tried a lot of ways to introduce this instrument and spark interest in young people, for example by making covers of popular songs.

Do you have interesting experiences during your time playing traditional music? Has anybody ever commented that you don’t play authentic traditional music because you put modern elements such us drums in it?

Of course there are people who said things like that. Some even complained, why don’t I just play only traditional music? Like I’ve explained before that, in some videos that I made, I’ve included fragments of traditional music or traditional sapeh elements.

What is your ideology in playing pop music with traditional instruments?

Playing pop songs with traditional instruments is actually only a camouflage for me to bring more people to know traditional music. In covers that I made, I’ve slipped in traditional sapeh and music patterns that many people probably are aware of. But by doing this, slowly people start to recognise the patterns in traditional music such as datin julut, urau, and sapeh leto.

You have been in Ottawa and Chicago, what did you do there?

The events in Ottawa and Chicago are music-related events. I did some shows and introduced Dayak culture, where the native American culture in USA and Canada is very similar to Dayak culture. This is my point to make them more interested in Dayak, Kalimantan, and Borneo.

What is your plan for next year?

In the next few months I’ll be focusing in my records. I’ll record some of my own compositions and some traditional sapeh songs. Then I’ll upload them to Youtube to introduce them to young people and see what possibility do I have to achieve more in the future.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s